Rabu, 22 Februari 2017

Dahsyatnya Shalat Dhuha

Rabu, 4 Januari 2017

Hari itu aku mengantar Mama dan Mamas untuk melakukan Vaksin Meningitis ke KKP Soekarno Hatta, Cengkareng (Kantor Kesehatan Pelabuhan). Kami cukup mengikuti petunjuk arah jalan saat memasuki area Bandara Soetta yang menunjuk ke arah “Lounge Umroh” untuk bisa sampai di lokasi yang kami ingin tuju. Saat itu aku mendaftar via online sehingga antrean untuk memulai vaksin untuk peserta online baru dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Kami tiba disana pukul 08.30 WIB sehingga masih ada waktu 1,5 jam lagi untuk kami memulai vaksin. Kami pun memutuskan untuk menunggu dan menghabiskan 1,5 jam tersebut di area Masjid yang terletak di sebelah KKP. Masjidnya bersih, besar, nyaman,rapi, dan juga wangi. Kupandangi seluruh area Masjid, mungkin nanti seperti itulah keindahan Masjidil Haram saat nantinya Allah memanggilku dan memperkenanku mendatangi rumahNya di Mekkah saat Umroh nantinya. Ya.... mungkin sebentar lagi hal itu akan dirasa Mama dan Mamas bulan depan, lain halnya denganku yang masih belum tahu kapan kesananya. “Ah... semoga segera juga dan tak perlu menunggu lama ya! Aamiin ya Rabbal ‘alamiin,” gumamku dalam hati.

Mendekati pukul 10.00 WIB, tepatnya pukul 09.50 WIB pun kami berpindah menunggu antrean untuk kami ke KKP Bandara Soetta. Saat menunggu di ruang antre, tetiba di sebelah Mama datang ibu bertanya sambil terengah-engah dan duduk di bangku sebelah Mama bertanya,

“Permisi bu, apa ibu tahu kantin kalau untuk beli roti disini dimana ya bu? Saya melihat ada beberapa orang disana beli roti, tapi saya tidak tahu belinya dan saat mau menanyakan orang tersebut saya tidak enak?”, Ibu itu bertanya sambil mengelap peluhnya.

“Mohon maaf bu, saya sendiri juga tidak tahu bu letak kantinnya dimana. Saya juga baru pertama kali kesini. Adek tahu?”, Mama pun menjawab sambil bertanya juga padaku.

“Aku juga nggak tahu Mah,” jawabku singkat.

Seketika Mama pun mengeluarkan bekal lontong kami yang masih tersisa saat berada di Masjid tadi dan menyodorkan pada Ibu tersebut seraya berkata,

“Ini bu, saya punya beberapa lontong, untuk Ibu saja silahkan. Kebetulan kami sudah kenyang makan ini sebagai bekal. Hitung-hitung buat ganjal perut meski tidak seberapa kenyang,” Mama menawarkan.

“Wah... Apa tidak merepotkan Bu? Tidak apa jika saya ambil lontongnya untuk saya makan? 

Kebetulan perut saya perih benar Bu. Saya tadi ke RS Fatmawati, katanya disana bisa vaksin tapi pas sampai sana tidak bisa. Terus saya ke Klinik daerah Bintaro, katanya disana juga bisa tapi saat sampai disana ternyata tidak bisa juga. Terus saya langsung menuju kemari untuk vaksin, padahal saya berangkat dari rumah ba’da subuh dan mbelum sarapan sama sekali tapi sudah harus kesana kemari,” begitu penjelasan Ibu tersebut.

“Iya bu, monggo saja. Kebetulan saya bawa banyak untuk bekal. Tinggal sisa segini, karena yang lainnya saya tinggal di mobil soalnya berat kalau dibawa semuanya,” kata Mama sambil menyodorkan kantung plastik berisi lontong.

“Terima kasih ya bu, alhamdulillah. Semoga Ibu dimudahkan urusannyadi dunia dan akhirat. Aamiin!”, ucapnya sambil berterimakasih.

“Aamiin ya Rabbal ‘alamiin,” jawab Mama.

***
Pelajaran dari percakapan tersebut:

Sebelum berangkat Mama mampir dulu di tukang lontong dan nasi uduk dekat rumah, beliau bilang ingin mampir untuk membeli lontong dan makanan untuk bekal disana. Jumlah makanan yang dibelinya cukup banyak. Ketika kutanya untuk apa beli banyak-banyak, lalu beliau menjelaskan beli banyak bukan hanya untuk kita, siapa tahu nanti bisa dibagi dengan pengunjung lain disana yang butuh.

Berbagi disini dimanapun tempatnya supaya Allah nantinya juga membagi apa yang Dia punya untuk kita, mungkin saja tidak Allah bagi disini langsung sebagai balasannya. Tapi entah kapan nanti, pasti Allah akan membalasnya jika kita ikhlas memberi. Kalaupun tidak kau rasakan saat ini, mungkin nanti kamu sebagai anak Mama ataupun cucu Mama ataupun keturunan Mama entah yang mana, Insya Allah akan mendapatkan manfaat dari niat berbagi ini.

Seketika ku diam seribu bahasa. Saat itu kupelajari bahwa rezeki itu lebih indah dan berkah jika kita ikhlas berbagi. Karena dalam firman Allah di Surat Hud ayat 6, bahwa Allah sudah menjamin rezeki setiap hambaNya. Jadi tak perlu ragu kalau-kalau kau kekurangan jika hanya berbagi makanan yang tak seberapa harganya. Bisa jadi pemberianmu itu adalah cara dari Allah memberikan rezeki dan mencukupkan rezeki atas umatNya yang lain tapi melalui kamu sebagai perantaraNya. Dalam firmanNya di Surat Ibrahim ayat 7, Allah menginginkan kita untuk bersyukur atas semua nikmat dan rezeki yang telah di anugerahkanNya pada kita, maka nantiNya Allah akan menambah lagi dari hasil rasa syukur akan rezeki kita. Maka berbagilah, karena dengan berbagi yang tak seberapa bisa jadi merupakan suatu jalan untuk membuka rezeki kita dari pintu lainnya.

***

Belum selesai kegiatan vaksin disana, setelah kejadian dengan Ibu tadi, aku pun belajar kehidupan secara langsung dari dia sang Mama sebagai guruku sendiri kala itu. Tetiba Ibu di sebelahku pun menanyakan nomor antrian kepada Mama. Dan akupun menjawab bahwa Mama dan Mamas ku menggunakan pendaftaran online sehingga tidak perlu menggunakan nomor antrian seperti pendaftar manual yang datang pagi. Si Ibu di sebelahku bertanya, apakah aku akan vaksin juga atau tidak. Kujelaskan bahwa aku kesana hanya mengantar Mamas dan Mama ku untuk vaksin karena aku yang mendaftarkan via online untuk mereka berdua. Karena yang akan berangkat umroh hanya mereka berdua, aku tidak. Ibu tadi pun mendoakan kelak aku bisa segera dipanggilNya untuk pergi umroh kesana, lalu ku aamiinkan dengan segenap hati. Kemudian tak lama beliau pun bercerita bahwa dirinya akan berangkat umroh 9 Februari 2017. Beliau mengisahkan tentang:

Kepergian umrohnya di sponsori sepenuhnya langsung oleh teman SMA nya. Teman SMA nya mendapatkan rezeki untuk berangkat umroh dari suami yang telah memenangkan tender proyek kerjanya lalu mengajak ia dan teman satu teman SMA lainnya. Masya Allah... sungguh nikmat Allah yang luar biasa katanya. Tak pernah sedikit pun dalam benaknya akan berangkat kesana memenuhi panggilanNya tanpa biaya sama sekali, apalagi kini beliau sudah tak lagi bersuami karena suaminya sudah lebih dulu menghadap Illahi jalan 3 tahun ini. Ibu tadi bercerita, bahwa mungkin ini jawaban Allah atas Shalat Dhuha nya yang rutin beliau lakukan karena dalam Dhuhanya beliau berdoa:

“Ya Allah... Panggilah aku untuk bisa berkunjung ke makam kekasihMu, Rasulullah SAW dengan caraMu ya Rabb!”

Tak pernah absen berdoa sesudah Dhuhanya, mungkin inilah jawabannya. Tak pernah beliau putus asa atas doa dalam Dhuhanya. Berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun beliau tak pernah absen atas Dhuhanya. Malah, makin kesini makin beliau rapatkan Dhuhanya, beliau tambahkan lagi rakaatnya, dari 2 menjadi 4, menjadi 6 lalu stabil dalam rakaat 8 yang tak pernah absen dilakukan. Ya... Allah menjawabnya sekarang. Tak sedikitpun biaya beliau keluarkan dalam kepengurusan keberangkatan umrohnya ini. Kemudahan membuat paspor, kemudahan membuat buku kuning (kegiatan vaksin akan mendapatkan buku kuning sesudahnya sebagai syarat keberangkatan menuju tanah suci), dan kesehatan juga kemudahan tanpa halangan rintangan yang berarti untuk mengurus segala sesuatu demi bisa menginjakkan tanah suci dan menjawab panggilan berkunjung ke makam Nabi Muhammad SAW.

Lalu beliau berpesan,

“Dhuha aja dek, biar Allah cepatkan kamu ikutan berkunjung kesana seperti ku dan seperti Mama juga Mamasmu. Insya Allah, Allah dengar, dan Insya Allah akan Allah jawab cepat. Asal kita berdoa dengan yakin, Insya Allah gak pernah Allah tunda-tunda lagi,” sarannya sangat berapi-api

“Aamiin ya Allah... Doakan istiqamah ya bu. Biar nular kayak Ibu,” jawabku tanpa terasa menetes air mataku mendengarkan ceritanya.

***

Pelajaran lagi hari ini, rezeki tak selalu melulu materi. Meskipun sudah Allah tetapkan setiap hambaNya akan suatu rezeki yang pasti, tapi dengan sunnah disamping menjalankan yang sudah kewajibannya, itulah cara membuka pintu rezeki dari tempat lainnya. Panggilan ke tanah suci, sejauh apapun materi kalau Allah belum memanggil, maka belum lah bisa kau mengunjunginya. Lain halnya, jika Allah sudah berkenan, maka tanpa secuil materi pun kita bisa menginjakkan kaki kita disana dengan cara yang bahkan tak bisa ternalar oleh pemikiran kita.
Memang... rezeki itu pasti, tapi untuk membuka rezeki lainnya, kita bisa mengusahakannya melalui ketukan pintu doa dari serentetan sunnahNya.


Mungkin tak langsung dijawabNya, tapi percayalah, di balik rentetan sunnah bahkan doa di dalamnya, akan Allah jawab pastinya. Mungkin jawabannya bukanlah hajat yang selama ini kita panjatkan, tetapi jawabannya adalah kemudahan yang selama ini kita rasakan. Mungkin itulah jawaban yang paling tepat untuk kita berdasarkan pilihan Allah atas semua doa dan sunnah kita. Rezeki dan nikmat tak selalu melulu materi. Bisa jadi, keselamatan berkendara, kemudahan mengurus segala hal, keselamatan dalam berbagai musibah yang ada di depan mata, keluarga sehat juga tubuh kita, dan kebahagiaan atas senyum tingkah laku keponakan yang kita lakukan, itulah salah satu nikmat dan rezeki yang Allah beri.

#FYI  Aku gak ngajak ibunya foto karena udah membleh dluan nangis. Anak cengeng emang :'(

Senin, 09 Januari 2017

Rabu 4 Januari 2017,

Pagi itu aku, Mama dan dua masku berangkat menuju KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) Bandara Soetta, Cengkareng - Banten. Ba’da subuh aku beserta Mama sudah bersiap untuk berangkat kesana. Tak lama setelah kami bersiap, turunlah hujan deras sampai pukul 6.30WIB. Mas ku pun men-delay keberangkatan kami sembari menunggu hujan reda karena kalau naik mobil, tetesan hujannya pasti menghalangi pandangan dirinya saat mengemudi. Lokasi KKP Bandara Soetta sendiri ada di LOUNGE UMROH, kalian cukup ikutin aja petunjuk arah ke arah sana. Letaknya ada di sebelah kiri jalan dekat masjid gede area perkantoran Bandara Soetta, kalian bisa belok kiri sesudah melewati masjid besar tersebut, tempatnya persis ada di belakang kantor pos Bandara Soetta.
KKP Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng - Banten


Oh iya, keberangkatan kami menuju KKP adalah untuk menjalankan vaksin meningitis yang dilakukan para calon peserta jamaah umroh. Insya Allah, Mama dan Mas ku akan berangkat pertengahan Bulan Februari 2017. Vaksin meningitis sendiri bertujuan untuk meningkatkan imunitas (kekebalan tubuh) bagi para peserta haji dan umroh karena cuaca juga iklim beserta suhu di Mekah dan Madinah sangatlah berbeda, maka penting diadakan vaksin bagi kita peserta jamaah umroh dan haji dari Indonesia. Setelah kegiatan vaksin sendiri, nanti peserta jamaah akan mendapatkan surat/buku kecil berwarna kuning yang akan disetorkan kepada pihak travel sebagai salah satu jenis persyaratan sebelum keberangkatan jamaah. Biasanya peserta jamaah melakukan vaksin sekitar 2-3 minggu sebelum keberangkatan para jamaah ke tanah suci. Dan mulai tahun ini, vaksin meningitis akan berlaku selama 3 tahun (FYI: biasanya Cuma 2 tahun loh). Vaksin ini hanya bisa kalian dapatkan di KKP terdekat sesuai dengan domisili kita tinggal, karena rumahku lebih dekat ke Bandara Soetta, maka kami pun menuju kesana. Berikut ini daftar KKP yang menyediakanvaksin bagi para jamaah haji dan umroh.

Sebelumnya, vaksin juga bisa kita dapatkan di beberapa rumah sakit terdekat yang bekerja sama dengan pemerintah. Namun, saat ini hanya KKP saja yang menyediakan vaksin meningitis bagi para jamaah. Sebelumnya, tepat seminggu yang lalu hari Rabu 28 Desember 2016, kami mencoba untuk memproses vaksin di RS Fatmawati, karena berdasarkan informasi yang ku searchingdi internet, di RS tersebut bisa untuk vaksin tetapi sesampainya disana, ternyata RS Fatmawati sudah tidak lagi bisa untuk vaksin haji dan umroh. Vaksin haji dan umroh hanya bisa dilakukan oleh KKP yang ada di bandara dan pelabuhan saja. Jadilah hari itu, kami pulang dengan lengang tanpa hasil. Gak apalah, biar sambil belajar dan jalan-jalan, hehehe 😃.

Hhmm... mungkin karena ada kasus vaksin palsu yang sempat geger di awal sampai pertengahan tahun lalu kali ya, jadi izin memberikan vaksin bagi para jamaah saat ini hanya dilakukan oleh KKP di sekitar Bandara ataupun Pelabuhan.

Para jamaah yang akan di vaksin di KKP sendiri jumlah dibatasi loh. Hanya sekitar 250-300 jamaah yang akan dilayani vaksin, dengan dibagi kuota sekitar 250-an jamaah yang mendaftar secara walk ini dan 50-an jamaah yang mendaftar secara online. Jam operasional KKP Bandara Soetta sendiri buka dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB. FYI nih guys, para jamaah yang mendaftar secara walk in sudah datang dari pukul 05.30 WIB loh. Mereka sengaja datang pagi demi mendapatkan nomor antrian paling cepat. Karena nomor antrian di KKP Bandara Soetta ini akan diberikan, jika peserta jamaah sudah mengisi formulir pendaftaran yang berisi data-data dan surat pernyataan persetujuan vaksin dari pihak jamaah yang saat pengembalian ke meja pendaftaran juga sudah diselipkan beberapa persyaratan umum lainnya seperti:
  1. Foto copy paspor 1 lembar
  2. Foto berwarna 4x6 1 lembar
  3. Foto copy KTP 1 lembar

Adapun persyaratan bagi para jamaah yang mendaftar online, kalian perlu menyiapkan foto paspor yang akan di attach dalam form pendaftaran online vaksin dalam web ini .

Karena aku mendaftarkan secara online bagi Mama dan Mas ku, maka saat aku tiba untuk menyerahkan berkas pesyaratan pendaftaran vaksin ke bagian loket pendaftaran, aku hanya tinggal mengisi surat pernyataan kesediaan untuk di vaksin yang di tanda tangani oleh calon jamaah penerima vaksin yakni, Mama dan Mas ku. Oh ya, di dalam surat pernyataan itu juga ada keterangan kita menderita penyakit apa juga alergi apa, loh. Kita diwajibkan mengisinya jika ada, tapi jika tidak ya dibiarkan saja (tidak usah diiisi). Pendaftar vaksin online akan mulai dipanggil di jam 10.0 WIB dan tanpa perlu menggunakan nomor antrian seperti para pendaftar walk in. Untuk pendaftar online, nanti setelah isi berkas pendaftaran di web dan meng-attach foto paspor di web, kalian nanti akan dapat email verifikasi dari kespel yang isinya:
  1. Formulir pendaftar
  2. Tanda terima ICV

Tanda Terima ICV
Form Pendaftaran Online


Yang semuanya mesti di print out saat akan mendaftar di loket pendaftaran. Oh ya, jangan lupa siapakan no SK travel beserta nomer teleponnya saat akan mengisi form pendaftaran di web. Dan jamaah yang mendaftar online untuk vaksin, WAJIB dateng pada tanggal yang kalian isikan di web. Kalau kalian tidak datang di saat waktu yang ditetapkan, kalian harus daftar ulang via online lagi.

Saat aku sampai KKP, aku menanyakan alur proses vaksin kepada bapak-bapak berkumis tinggi yang menjaga meja pendaftaran, alhamdulillah... beliau ramah dan menjelaskan proses dengan jelas. Beda banget sama costumer care di ULP BSD pas lagi ditanyain proses pembuatan paspor bagi lansia yang gak punya akte guys. Sama-sama pelayanan publik sih, tapi beda banget perilakunya, ckck 😞. And FYI again guys, semua petugas di KKP Bandara Soetta ini ramah-ramah loh, baik petugas pendaftaran, petugas pemeriksaan, petugas pembayaran, petugas vaksin, dan petugas penyerahan buku kuning.

Saat itu,aku sampai KKP pukul 08.30 WIB, untuk menunggu waktu dipanggil, kami pun melipir ke masjid besar yang ada di sebelah KKP Bandara Soetta persis karena KKP Bandara gak dilengkapi AC atau pendingin ruangan sama sekali, jadi bener-bener engap kalau mau menunggu 1,5 jam disana. Jadi ya, kita putuskan untuk menunggu disana sekalian shalat dhuha karena spare waktu tunggu yang hhmm cukup lama juga sih, hehehe.
Nah ini dia nih penampakan masjid yang adem banget and cozy banget buat nunggu dibanding KKP Bandara nya sendiri. Rumah Allah mana sih yang gak bikin adem meski pendingin ruangan gak dinyalai dan kami hanya duduk di selasar masjid, tapi ademnya... Subhanallah banget!!! Kayak pake AC 5pk (lebay), tapi emang bener sih, hehehe 💞 😍 🙌.
 


Mendekati jam 10.00 WIB kami pun kembali menunggu di ruang tunggu panggilan pemeriksaan di KKP. Ya salam... rasanya udah kayak sauna gratis guys, saking penuhnya jamaah yang antri pemanggilan pemeriksaan juga, ditambah kipas angin yang lumayan gede muter, yang cuma ada satu-satunya di sebelah pintu masuk KKP nih guys. Oh ya, berikut ini alur kegiatan vaksin:
  1. Mengisi dan mengembalikan formulir pendaftaran berikut dengan persyaratan yang sudah kusebutkan di atas tadi dan menukarnya dengan nomor antrean
  2. Masuk loket 1 atau 2 untuk melakukan pemeriksaan awal (biasanya para jamaah akan ditanya usia, punya penyakit apa, alergi apa, dan sekalian di tensi darah-untuk jamaah yang saat di tensi darahnya kedapatan HIPERTENSI, biasanya jamaah ditangguhkan dulu untuk masuk ke tahap berikutnya, yakni vaksinnya nih guys. Jamaah yang tidak punya riwayat HIPERTENSI, tapi saat di tensi tekanan darahnya tinggi akan ditangguhkan, tapi kalau punya riwayat penyakit tersebut biasanya diperbolehkan untuk vaksin. Jamaah yang ditangguhkan biasanya sih di kasih spare waktu buat istirahat dan minum obat HIPERTENSI sekitar 2-3 jam untuk dipanggil lagi melakukan pemeriksaan tensi lagi)
  3. Membayar biaya vaksin di loket pembayaran sebesar Rp. 305.000,- (loket ini cuma melayani pembayaran cash loh guys, kalau pun kalian gak punya uang cash, kalian bisa mengambil uang di ATM yang hanya satu-satunya di KKP tersebut. Itu juga ATM BRI doangan loh)
  4. Masuk loket 3 untuk mendapatkan vaksin
  5. Menunggu buku kuning terbit di loket 4

Di loket 1 atau 2, biasanya akan dipanggil sekitar 20 jamaah langsung ke dalamnya. Kemudian di loket ke 3, biasanya dipanggil sekitar 10 jamaah sekaligus dan di loket 4 biasanya dipanggil sekitar 5 jamaah lah ya paling banyak. Oh ya, untuk pendaftar online setelah jam 10.00 WIB mereka akan dipanggil dan diselipkan 3-5 jamaah saja diantara para jamaah pendaftar secara walk in.

FYI, proses Mama dan Mas ku kemarin itu dipanggil pemeriksaan di loket 2 sekitar pukul 10.20 WIB, kemudian membayar ke loket pembayaran (Cuma loket ini yang antreannya paling cepet, gak sampai 5 menit deh kalo gak salah). Kemudian dipanggil ke loket 3 pukul 11.00 WIB dan di loket 4 sekitar pukul 11.30 WIB.

KKP bandara sendiri punya jeda istirahat makan siang dari jam 11.45 WIB sampai 13.00 WIB loh guys. Pada saat jam tersebut, mereka akan istirahat untuk memproses para jamaah untuk melakukan serangkaian prosedur vaksin. Hampir ketar-ketir sih saat itu, karena pengumuman istirahat oleh petugasnya sesaat setelah nama Mama dan Mas ku dipanggil untuk mengambil buku kuning di loket 4. Bayangin aja kalo telat, mungkin kami bakalan nunggu yang CUMA TINGGAL NGAMBIL BUKU KUNING AJA ba’da mereka istirahat nih. Alhamdulillah... Allah masih sayang kami, jadinya bisa kelar semua prosesnya sebelum mereka istirahat.

Selepas buku kuning sudah ditangan pun, kami mampir sekalian untuk shalat zuhur di masjid sebelah KKP tersebut. Lagi-lagi aku dibuat kagum, ternyata masjid tersebut gak cuma bersih dan adem banget, tapi setiap hari di masjid tersebut selalu diadakan kajian layaknya pengajian setiap hari ba’da zuhur loh. Hari itu kajiannya adalah tentang “Peristiwa Munculnya Ya’juj dan Ma’juj sebagai salah Satu Tanda Hari Kiamat”. Selain ada kajian harian yang dipimpin langsung sama ustadz yang ditunjuk masjid tersebut, karpet untuk shalat dan mukena yang disediakannya wangi-wangi banget loh kayak abis di laundry (semoga tiap harinya memang seperti itu ya wanginya, jadi betah lama-lama sujud di masjid itu).

Sayangnya, bilik shalat untuk wanita kurang luas, jadinya saat itu kami melaksanakan shalat zuhur hampir dalam keadaan dempet-dempetan (semoga perjuangan kekhusyu’an di tengah dempet-dempetan kami, saat shalat zuhur disana Allah limpahkan pahala. Aamiin...). sebenernya sih gak bakalan agak riuh andaikata ibu-ibu yang banyak berdatangan di masjid sana, bisa bersikap antre dengan tertib saat menunggu giliran mengenakan mukenanya. Sayangnya, banyak masyarakat yang kurang aware untuk hal itu, jadilah agak riweuh saat menjalankan shalat disana. Bayangin aja guys, saat shalat, di belakang, di samping bahkan depan kalian pun ada orang yang sambil berdiri nunggu giliran buat make’ mukena masjid yang saat itu lagi kalian pake’ buat shalat, risih kan??? (saat itu, baik Mama dan aku, sama sekali gak kepikiran buat bawa mukena, karena kami pikir tidak akan sampai zuhur disana).

Dan... akupun pulang sekitar pukul 12.30 WIB dari area KKP sana. Oh ya, di KKP ini kalau kalian parkir kendaraan di lapangan bola sebelah kantor pos depan KKP bandara Soetta, kalian gak perlu bayar parkir loh alias GRATIS. Oke segitu dulu ya review perjalanan untuk vaksin meningitis di KKP Bandara Soetta. Doakan mudah, lancar, selamat, dan berkah untuk Mama dan Mas ku yang akan berangkat umroh pertengahan Februari 2017 ini yah guys. Aamiin... 😍


Semoga bermanfaat 😉 😊     

Sabtu, 31 Desember 2016

31 Desember 2003
Hari itu, rasanya aku tak benar-benar berada dalam jiwaku. Mendung seolah menghampiriku dan menghiasi sisa hariku sepanjang waktu itu. Ketika kulihat berbagai alat besar, selang panjang, kabel-kabel menjuntai, dan badannya terasa “anyep” hangat tidak dingin pun tidak. Ketika matanya enggan membuka, tangannya tak lagi merespon saat aku memegangnya, air mata sisa semalam masih menggantung di ujung pelupuk matanya.

“Allah... aku tak kuasa melihatnya, buat keajaiban bangunkan dia dari tidurnya. Buat ia kembali tertawa renyah seperti semalam saat aku makan malam bersamanya”.

Aku memutuskan keluar ruangan dengan banyak suara detak jantung bayangan bahkan khayalan. Rasanya tubuh ini lelah, gontai tak ingin lagi melihat dunia. Jangankan untuk mengisi perut meski cacing didalamnya menggeliat berkata “aku lapar!”, minum pun rasanya tak tertelan. Sungguh hari itu rasanya aku sendiri tak percaya akan merasa di titik ini.

Aku memutuskan pulang ke rumah siang itu. Berharap saat pulang nanti aku sudah mendengar bahwa lelakiku terbangun dan memanggil namaku. Lelakiku saat itu semalam memelukku, bercanda bersama meskipun makanan masuk ke dalam mulutnya penuh, merajut mimpi bahwa malam tahun baru beliau akan kembali pulang dan kembali menemani malamku.

Seketika lenyap semua mimpinya, seketika hanya jadi dongeng bahkan cerita biasa saat tetiba tubuhnya gemetar, tak terkontrol di bawah sadar meski telah dijeksi penenang, bahkan lidahnya mulai kelu saat lelaki tertuaku menyelesaikan tuntunannya membaca syahadat suci penyejuk kalbu.

Aku tertidur panjang sepanjang siang, hingga kudengar suara riuh di ruang tamu. Lelaki tertuanya membereskan meja dan bangku. Aku limbung, tak habis pikir kenapa tak hanya hati dan jiwaku yang berantakan, kenapa semua orang juga memulai perlahan membereskan semua perabot rumahku, ada apakah gerangan?

“Gantilah baju Nak, Ayahmu akan segera pulang”.

Entah apa yang ada di benakku saat itu, yang kutangkap saat itu benar bahwa lelakiku yang kutunggu di ruang terseram sepanjang hidupku yakni ruang ICU akan segera pulang, menemani malam pergantian tahun baru, dan bahkan takkan lagi absen menemani tidurku. Tak ada curiga dalam diri ini, yang ada hanya spontanitas aku mengucap syukur alhamdulillah, Allah benar-benar mengijabah doaku.

Aku pun bergegas mengganti pakaianku tentu saja setelah dipilihkan oleh bulekku pakaian putih sopan menandakan keharuan. Selesainya, daku terdiam menatap sekitar, ada yang menjahit bunga dengan benang, ibu-ibu berdatangan mengenakan kerudungan, baskom-bskom disediakan di sudut ruangan, dan depan rumahku persis tengah dipasangi tenda yang tak megah namun cukup untuk meneduhkan depan rumah.

Seketika itu pula kudengar kumandang pengumuman berita duka cita bahwa lelakiku telah meninggalkan aku dan keluargaku selamanya. sontak aku terperanjat mendengarnya. Bagaimana bisa, lelakiku diberitakan dalam pengumuman itu padahal dia akan pulang karena kesehatannya menunjukkan kebaikan begitu penjelasan lelaki tertuanya saat aku tadi terbangun. Aku bingung, aku ingin marah tapi tak bisa.

Perlahan rumahku ramai, tetanggaku sibuk mengusap kepala dan memelukku yang masih terduduk bingung linglung. Teman-teman mulai banyak berdatangan, tak banyak bicara hanya memelukku disana yang lagi-lagi masih terduduk mematung. Lag-lagi logikaku masih tak bisa berjalan menyadari semua keadaan yang jelas-jelas menunjukkan bahwa lelakiku benar-benar akan pulang selamanya, pulang ke pengharibaan Penciptanya. Meski sudah datang pula serangkaian bunga tanda duka cita di depan rumah.

Aku berdiri dari duduk mematungku, seperti ada yang menarik lenganku untuk bangkit meski aku sendiri masih tetap linglung tak ingin terbangun. Suara menakutkan dari sirine ambulans melengking-lengking rasanya memekakan telinga. Mobil putih bertuliskan “MOBIL JENAZAH” tepat memakirkannya jelas di depan mataku.

Setengah tabung putih besar diturunkannya dari mobil itu seraya diikuti kedua lelaki tertuaku menggandeng lengan wanitaku. Lalu nalarku mulai membisikkan, “Lelakimu pulang Ren. Pulang untuk selamanya dan bukan pulang ke pelukanmu, tapi pulang ke pelukanNya!”.

Allah...

Kiamat sudah dalam hidupku... Aku berlari hendak membuka tabung itu, ingin kubuktikan bahwa apa yang dikatakan nuraniku tidak lah benar. Meronta, meraung, berteriak, bahkan bersikap kalap benar-benar terjadi padaku hari itu. Banyaknya yang menghadang, memelukku, bahkan menggenggam erat tanganku pun tak kuasa membendung amukan dalam diriku. Entah apa yang membuat tubuh perempuan kurus 11 tahun saat itu, begitu kuat bahkan tak terbendung dari banyaknya genggaman dan cengkraman yang memegangiku.

Aku pun seketika jatuh tersungkur saat tabung itu terbuka dan memang wajah lelakiku yang ada di dalamnya. Tak sadar, tetiba aku sudah berada di ruang tengah dengan suara tahlil dan gema Yaasiin yang riuh rendah terdengar dalam rumah.

Kupandangi dari jauh meski lemas masih kurasa, meski hati masih tak terima, ternyata wajah lelakiku benar-benar sudah senyum dalam damai menemui penciptaNya. Ibu dan lelaki tertuaku menyambutku dalam peluknya, mengatakan semua akan baik saja. Lelakiku hanya pergi untuk sementara dan diriku masih tetap akan ditemani keluarga yang masih tersisa. Belum sampai menetes air mataku, badanku kembali terjatuh di sebelahnya dan lagi saat terbangun suara tahlil pengantar tidur yang biasa lelakiku bacakan saat malam menjelang, kini berbalik disuarakan untuk mengantar tidurnya dalam ketenangan.

Kudekati jasadnya, kupandangi lambat-lambat wajahnya, kuperhatikan sekujur tubuhnya, hingga lirihku berdoa, “Bangunlah Pah... Ayoooo bangun, jika kau bangun akan ku peluk erat engkau tak kulepaskan, akan kubuat riuhan canda tawa tak terhabiskan, akan kubuat bangga atas prestasiku bagimu tak terelakkan. Bangunlah Pah... Kau sudah dirumah!!!”.

Air mataku menetes kembali diikuti kejatuhan lunglai badanku. Lagi-lagi tubuh kurusku saat itu ditarik menuju ruang tengah menjauhinya guna menenangkan dan menyadarkan psikisku dari berita kelabu. Saat terbangun lagi, guru mengajiku menjelaskan lelakiku benarlah sudah pulang, namun perlu keikhlasan dan kesabaran tak terkira dalam diriku agar ia benar-benar bisa pulang dengan nyaman menuju rumah sebenar-benarnya rumah bagi seorang hamba. Rumah yang kelak nantinya wajib kau perindah melalu untaian doa, shalat sunah dan rangkaian amal jariyah. Rumah yang nantinya bisa kau bikin mewah seinginmu dengan sejuta pahala.

Ketika kembali kudekati jasadnya dengan tak lupa di kanan kiriku bahkan belakang badanku dijaga ketat oleh kerabat saudaraku takut-takut aku kembali lagi terjatuh. Kala itu kukuatkan hati, kutahan air mata, ku tegapkan kaki berpijak, dan kudekati bibirku mendarat tepat di  dahinya. Kukecup sekuat cinta yang ada dalam dada, kurasakan dinggin yang tak biasa dari dahinya, dan kuucap janji bahwa, 

“Aku akan menjadi seperti kau pinta Pah. Pulanglah dengan tenang ke singgasanaNya, pulanglah dengan damai kembali ke sisiNya. Aku akan kuat dan aku akan berusaha selalu ikhlas karena ini takdir terbaikNya. Pulanglah... Akan kuusahakan memewahkan rumah kita dlaam SurgaNya kelak...”.

Allumaghfirlahu warhamhu wa’afi i wa’fuanhu...

Dia lelakiku, satu-satunya lelakiku saat itu dan hingga kini. Ketika 13 tahun sudah hanya bisa kupeluk bingkai fotonya, kupandangi lekat wajahnya dalam pigura, dan kuusap-usap nisannya. 

Lelakiku yang tak pernah mengeluh meski terkadang kejamnya ibu kota sungguh membuatnya lelah bahkan terlalu banyak dikeluarkan dari tubuhnya keringat berpeluh-peluh

Lelaki yang tak pernah membiarkan anak gadis kesayangannya takut, anak gadis kesayangannya jatuh bahkan diliputi berbagai rasa cemas apapun bentuknya itu

Lelaki yang tak pernah bosan menjawab setiap pertanyaan konyol yang terlontar tak udah-udah dari mulut kecilku

Lelaki yang tak pernah bosan meminta hadiah peluk dan cium sepulangnya bekerja mencari dan mengumpulkan kehidupan yang indah bagi belahan jiwanya dan juga buah hatinya

Lelaki yang bahkan tak pernah kulihat marah meski berkali-kali ada saja ulah yang kubuat secara jelas dan nyata di depan matanya

Lelaki yang tak pernah absen melantunkan doa dan membacakan ayat suci penenang jiwa sebelum waktu tidurku tiba

Dan lelaki dengan segala kekurangan dan kelebihannya selalu membuat hidupku penuh warna bahkan sampai detik ingin kuakhiri tulisan singkat ini tentangnya, tak sanggup mewakili penggambaran secara nyata sepeti apa dirinya

Dia lelakiku saat ini, kemarin, esok bahkan saat aku mati nanti


Dia lah Pak’e ku, sang lelaki yang kuceritakan saat hari kelabu 13 tahun lalu

Foto ini diambil 25 hari sebelum Pak'e pergi
12 hari sebelum Pak'e harus berjuang melawan Arterosklerosisnya
Wisuda terakhir yang didatanginya

Rabu, 21 Desember 2016



SELAMAT HARI IBU MAMA...

Selamat hari ibu Mama kesayangan...
Terima kasih untuk semua doa dan harap yang selalu kau panjatkan
Terima kasih untuk semua peluh yang kau jatuhkan tanpa ada rasa mengeluh
Terima kasih untuk selalu kuat saat beban hidup rasanya mencekat
Terima kasih untuk selalu tegar saat langkah hidup ini mulai gentar

Maaf untuk selalu membuatmu was-was tak karuan
Maaf untuk beberapa mimpi dan pengharapanmu padaku belum sanggup kuwujudkan
Maaf untuk letih, jenuh bahkan penat yang selalu kau rasakan
Maaf untuk tanggung jawab atas diri ini masi menjadikan dirimu sebagai tumpuan

Ketika mimpi menetapkan karir di dunia pendidikan kutinggalkan
Dan memilih untuk menempuh jalur peraduan sendiri tanpa ikatan
Ketika hingga kini belum ada yang datang menemuimu menanyakan
Malah diriku sibuk untuk hal  yang tak karuan akan masa depan
Maafkan atas semua kekecewaan, ketakutan, bahkan pengharapanmu yang ku sia-siakan

Semoga Allah memberimu kemudahan, kelancaran, kesehatan, umur panjang juga keselamatan
Saat kau berkunjung ke kota suciNya sebagai aplikasi janjiku setelah mendapat gelar pendidikan
Agar 2 bulan ke depan semua janji mampu kutunaikan secara perlahan terwujudkan
Semoga Allah senantiasa meluaskan kesabaran dan keikhlasan juga padamu

Agar hidupmu selalu indah meski segala persoalan bergulir pergi seiring dengan waktu

Selamat hari Ibu Mamaaaaa..... 😍😘😘


Rabu, 21 September 2016

Be Nice in Ur Simple Life

Hidup kadang butuh liku-liku sebagai seninya.

Allah telah mengaturnya memang. Karier, kesehatan, usia, keluarga, jodoh, kematian, kesakitan, perasaan, dan hal menyedihkan pun jadi salah satu bagian kehidupan. Suka atau tidak, ya... semuanya sudah menjadi bagian yang mau tidak mau harus kau lewati sebagai bagian dari perjalanan hidupku. Meski rasanya tak karuan, meski kadang terasa menyesakkan, meski kadang kau merasa ini seakan “tak adil”, dan meski kau merasa tak jauh lebih baikan setelah melewatinya sesuai yang sudah digariskan. Yaaa... itulah kehidupan.
Saat kau melihat sekelilingmu bahkan teman terdekatmu jauh lebih mengasyikkan kehidupannya dibanding dengan kehidupanmu, percayalah, mereka juga pasti mengalami “roller coaster” yang sama kehidupannya denganmu. Hanya saja mereka masih mampu mengatasinya tanpa banyak mengeluh seperti yang nampak di luarnya. Ketika kau bertemu dengan mereka, mereka masih bisa tertawa bukan meratapi bahkan mengeluhkan apa yang sedang ia alami, bukan berarti dia tak memiliki hidup yang rumit seperti yang kau bayangkan.
Ada yang takdirnya baik meski tak perlu bersakit-sakit memperjuangkan kebahagiaannya. Ada pula yang tak selamanya diizinkan oleh Allah menerima kebaikan meski ia berusaha setiap hari menggapai mimpi tanpa henti.
Lalu untuk apa kau iri? Untuk apa kau protes? Untuk apa pula kau terus mengeluh? Apa dengan irimu itu bisa lantas mengubah hidupmu jadi lebih indah berwarna bak cerita dongeng saat kau masih balita? Apa dengan protesmu lantas Allah mengasihanimu dan memberikan keinginanmu dalam sekejap padahal melaksanakan perintahNya saja kau selalu bilang “nanti”? apa dengan keluhmu juga orang lain lantas memberikanmu kebahagiaan lebih dengan empati juga simpatinya padamu?
Sadarlah.... hidupmu adalah anugerah terindah dari Dia sang Maha Pencipta. Mungkinkau tak merasa, tapi banyak di luar sana menganggapmu jauh lebih beruntung dibanding kehidupan mereka. Meski mereka tak pernah tahu seberapa berat kau harus menjalani hidupmu, seberapa kuat kau harus menghilangkan rasa “trauma” mu, seberapa sering kau tertidur meski air mata masih menggantung di ujung matamu, dan seberapa kuat usahamu membangun intuisimu menjadi nyata bukan hanya isapan jempol dan mimpi indah belaka. Allah sudah mengatur semuanya. Kau ikuti saja alurnya, sambil sesekali kau usahakan halterbaik yang mampu kau usahakan untuk ke depannya.
Hidup ini mudah sesungguhnya, hanya saja keinginanmu melalui bisikan setan dalam berbagai rupalah yang membuatmu merasa sulit. Hingga kau jadi terasa sesak dan sulit untuk bergerak ke depannya. Letihmu kelak jika tak terbayar hari ini, maka Allah akan bayarnya nanti di dunia yang lainnya. Bersabar lah sedikit meski tak mudah, berusahalah lebih keras meski terasa sulit di hati dan di pikiran yang kau rasa, ikhlaslah lebih luas meski kadang rasa “terpaksa”tetap menghantui di belakangnya, dan tawakallah meski kadang kau merasa imanmu sedang berada di paling ujung titik terbawahnya.
Kuncinya.... jalani saja sebaik-baiknya perjalanan kehidupan olehmu. Lupakan rasa apapun itu yang membuatmu terbelenggu bahkan bernapas saja pun terasa tidak lagi ada makna yang bermutu. Sandarkan pengaharapanmu, mimpimu, bahkan anganmu padaNya. Jika kau tidak merasanya saat inni, nanti yang merasanya bisa jadi anakmu nanti, kemenakanmu nanti,atau bahkan generasi cucu cicitmu nanti. Hidup tak selamanya mewah, cinta indah, karier gemilang, badan dan wajah rupawan, bak cerita fiksi Korea yang biasa kau tonton seharian.

Allah sebaik-baik skenario kehidupan. Percayalah saja itu!!!

Sabtu, 07 Mei 2016

April Birthday

Flasback April 2016 again...
Yappp... meski ngeblognya telat pake banget, tapi gapapalah aku cuma pengen mengabadikannya dalam bentuk ingatan lain. Seenggaknya saat nanti aku kangen masa lalu, aku nggak perlu sibuk merecall memory ku, karena aku kapasitas dan kemampuan otakku, gak kuat nampung banyak memory boo... Hehehe. Oke... bulan April adalah bulan dalam satu tahun dimana harus paling banyak ngeluangi waktu untuk bisa quality time dan beliin beberapa pernik kado. Yappp... bulan April ketiga orang tercintaku ulang tahun dalam satu bulan #pusingpalaPujiatinihgaes. Ckckck. Yang pertama, keponakan tercantik yang paling bohay (ayahnya -the same as my older brother- ngasih sebutan kesayangannya ini loh!), yang paling cerewet, paling jutek, paling centil, dan paling paling deh pokoknya pada tanggal 17 April kemarin tepat 3 tahun. Doi udah sibuk banget pake baju bagus lengkap dengan hafalan nyanyian “Selamt ulang tahun” dari yang udah doi sering dengerin tiap dateng ke undangan ultah tetangganya, dan dengan sindiran mengena nan halus nanya kado buat dia dari aku.
Mas Djoko full team (ini ayah ibunnya Almahyra)
Yaaa... untungnya hari itu aku baru banget pulang dari pasar Tanah Abang lengkap dengan kelaperan, kehujanan dan kebanjiran sepanjang jalan dalam rangka beli perlengkapan lebaran dan hadiah untuk dua orang kesayangan. Dan pada tanggal 18 April tepat sehari sesudahnya, my real superwoman Mom berulang tahun yang ke 59 tahun (hhmm.. udah lebih dari setengah abad yan gaes). Meskipun surprise kue kecil-kecilan dengan lilin seadanya (bekas cucunya yang kemarin tiup lilin juga) tapi semoga aja teteap berkesan dan sedikit membahagiakan Mama lah dengan segala upaya bentuk kasih sayang dan kepedulian kita terhadap hari besarnya (meski beliau sendiri aja nggak pernah inget kapan ultahnya).
My beloved super duper woman Mom
Dan satu lagi, keponakan paling ganteng nan shalih yang paling gede badannya (gaes dia tingginya uda sedadaku loh padahal masi panjang banget fase pertumbuhannya) berulang tahun yang ke 6 tahun tepat pada tanggal 24 April. Keponakan paling diem, paling kalem, paling ambekan (maklum anak tunggal), paling nerimo (nggak pernah neko-neko minta kado) dan yang paling susah ngomong “R” (padahal tahun ini niatnya masuk SD).
Dari sebelah kiri: dede Fatih, Ateu cantik, kaka Alma, dan Mas Azzam
Yappp... mereka semua berung tahun tepat pada bulan yang smaa loh gaes. Doa dari ateu cantikmu dan anak gadismu gak muluk-muluk kok Alma, Azzam, dan Mama “Semoga Allah senantiasa memberi kesehatan tanpa batas, panjang umur, sukses dalam segala hal, makin berkah hari-harinya, dan semakin dekat dengan Allah dalam urusan ibadah dunia maupun akhiratnya.” Dan khusus untuk dua keponakan ter-unyu dari ateu cantik adalah “Semoga kalian menjadi anak yang cerdas, berprestasi dan berakhlak baik”. Satu doa khusus lagi untuk Mama adalah “Semoga Mama tetap disini nemenin aku sampai aku nikah, sampai aku punya anak, sampai aku lelah bahagia pokoknya jangan kemana-mana ya Ma!”. Aamiin ya Rabbb... Istajib du’a....

Love always from ur beauty aunty and beloved daughter 

Outbond Training

Flashback last month (April 2016)
Pada tanggal 2 April lalu, aku bersama karyawan guru dan staff mengikuti kegiatan outbond training di daerah Sentul, Bogor tepatnya di Villa Rosso Sentul. Schedulenya sih berangkat jam 6 WIB PAGI... Hhhmmm... Kebayang dong malesnya hari itu karena weekend dan masih tetap harus sampai di sekolah pagi. Biasanya jam segitu baru bangun subuh #ngacooo... Hehehe... Jalanlah aku ke sekolah jam 5.45 WIB dan tepat sampai di sekolah jam 6 tepat #pembalapsejati... Hehehe... Dan saat tiba sekolah, cuma aku doang yang baru sampai. Dalam hati “Udah pada berangkat ya? Aku telat dong!!!”. Satpam sekolah pun nyeletuk “Teladan banget miss sesuai jadwal! Yang lain aja pada belum dateng. Hehehe”. Oh my God, udah hampir jantungan tadinya mah tapi malah nggak jadi karena ternyata semuanya emang belum pada sampe. Dan ekspresiku cuma nyengir kuda setelah pak satpam bilang gitu (entah siapa lah nama pak satpamnya padahal udah 9 bulan kerja bareng disana tapi masih belum tahu namanya) #sorryyapak. Singkat cerita ternyata di grup rame kalau keberangkatan diundur sampai jam 7 pagi karena bus kampus belum dateng supirnya sedangkan kabar di grup sampainya di jam 6.20 #jengkel-jengkelgemes #introspeksiakuyangmasihsukatelat. 

Tepat pukul 7 teng kamipun berangkat. Dan di sepanjang jalan yang aku lakukan adalah HIBERNASI karena katanya outbondnya bakalan capek jadilah sepanjang jalan kenangan itu aku tidur #alibi. Akhirnya sampai juga di TKP tepat pukul 9 karena maceto dan medan tempuh ke dalam villanya menantang banget gaes. Untung supirnya udah berpengalaman banget dan sedang bahagia karena dapat reward dari pihak yayasan atas kinerja dan pengabdiannya selama 15 tahun ini (salut banget sama beliau). Medannya dari mulai jalan melebar sampai jalan menyempit yang cuma bisa dilewatin ukuran 1 bus kampus kami (seukuran metro mini lah ya) dengan di sisi kanan dan kirinya rimbun pohon bambu dari yang tegak sampai yang bengkok. Medan perjuangan jalannya pun nggak Cuma sampai disitu ekstrimnya gaes, dengan akses tanjakan dan turunan yang lebih curam dari luka hati yang paling dalam #eeeaaa lebay, kamipun akhirnya sampai di tempat. Sampai di villa, kami disuguhi welcome breakfast sesaat sebelum acara dimulai dan sambil menunggu persiapan kita yang rempong untuk ganti kostum outbond.
Full team yeyeye


Oh iya, kali ini sekolah kami bekerja sama dengan pihak outbond Synergy Indonesia (www.synergy-outbound.com/) dalam penyelenggaraannya. Ice breaking dan introducing pun dimulai, dari babak awal aja udah seru banget gaes. Ngelatih konsentrasi kita dan ngelatih kegigihan serta keseimbangan tubuh kita juga karena kita diharuskan berjalan dan melakukan semua kegiatan di tanah rumput yang cukup licin saat itu (ya maklumlah mungkin pengaruh El Nino jadi musim hujannya baru datang lagi saat bulan April dan tepat sehari sebelum hari H-nya, turun hujan jadilah becek #kepanjangan... hahahaha). Balik lagi ke acara inti, disana kami outbond beberapa games diantaranya super trap, magic stick, ring toss, crazy volley, dan satu lagi tapi lupa namanya pokoknya jenis games yang mesti ngegendong, narik, dan ngelewatin tali tanpa boleh nyentuh tanah. 

Semua games disini rata-rata main fisik semua gaes cuma magic stick aja yang main strategi tanpa pake fisik ekstra, beda sama keempat games lainnya. Dan yang mesti kamu tahu, berhubung proporsi tubuhku yang agak tambun, dan tidak memungkinkan untuk digendong maupun ditarik, jadilah kita-kita ini (nggak mau kalah nyari massa dengan anggota lain dari kelompok kami yang berbadan agak wah juga) mengikhlaskan diri jadi kasur selama games berlangsung. Seru gaes semua gamesnya. Banyak pesan terselip juga di setiap games yang kita laluin karena setelah games selesai kita diberikan 10 menit untuk review mengenai “Manfaat apa sih yang bisa kita terapkan dari games tersebut untuk diaplikasikan dalam kerja kita sehari-hari?”. Nah.... dari situ deh kita dapat pengalaman seru, meengasyikkan, melelahkan dan memberi pelajaran utama yang khusus dalam aplikasi pekerjaan. 

Nggak cuma itu gaes, setelah outbond training tersebut, kita khususnya aku sih, makin mengenal karakter setiap rekan kerja kita dalam kesehariannya. Dan yang mesti kamu tahu nih gaes, dari acara itu juga aku jadi tahu gimana harusnya bersikap kepada masing-masing dari rekan kerjaku supaya kita gak saling menyakiti dalam hal apapun, terutama saling bekerja sama tanpa ada dusta diantara kita eh maksudnya tanpa ada beda kasta dalam diri kita. Karena kita kesatuan untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik ke depannya dan semakin berSYNERGY untuk ke depannya #iklanbanget. Hehehe. Dannn... timku saat polling suara dan score jadi juara 1 loh gaes. Wuuuaaaah penghibur banget nih dari rasa pegel dan capeknya pas pulang. 
Our team as a winner :D

Hhhmmm... dan akhirnya kegiatan outbond tersebut pun selesai, kami pulang pukul 5.30 sore dan sampai di sekolah dalam keadaan sehat dan selamat pada pukul 9 malam sangking macetnya di JAGORAWI #hufft....